Sejarah Hijra Sultan Makian ke Bacan

Muklak Dit Carita: Negeri Komalo Besi Limau Dolik

Secara historis Makian/Makeang merupakan bagian integral dari empat kerajaan yang ada di Maluku Utara (Maloko Kie Raha), disamping kerajaan Ternate, Tidore dan Jailolo, sebelum pindah ke Bacan. Sejarah ini masih terpatri dibenak para Macovianis (sebutan untuk orang Makian – bahasa Portugis), yang dikonstruksi oleh mereka sendiri tanpa proses penelusuran yang jelas dan rinci, akan perpindahan tersebut. Gerakan Marabose adalah suatu gerak perpindahan atau evakuasi orang Makian ke Bacan, atau biasa disebut dengan gerak pemindahan kerajaan Makian menuju Bacan. Pemindahan ini pun, disebabkan oleh kondisi alam dari pulau Makian yang tidak begitu aman (gangguan gunung api Kie Besi) sehingga memaksakan sultan Tarafannur (moyang penulis) untuk memerintahkan proses evakuasi. Proses evakuasi dalam terminologi cultural studies, mempunyai korelasi yang kuat dengan istilah Diaspora; yang diartikan sebagai suatu perjalanan atau persebaran yang disebabkan oleh kondisi alam yang tidak memungkinkan untuk menetap atau tinggal.

Dalam persebaran atau perjalanan, Gerakan Marabose dibagi kedalam dua rute yang akan dilalui. Pertama dimulai dari Tafasoho, dan yang kedua dimulai dari Tahane. Rute yang pertama berangkat dari Tafasoho menuju Tagono, lalu kemudian ke Talimau. Dari Talimau, mereka menuju ke Boki ma Ake/Kasiruta dan selanjutnya mereka menuju ke Labuha. Sedangkan untuk rute yang kedua, yaitu dimulai dari Tahane menuju ke tanah besar (Halmahera) yang namanya Dolik. Mereka pun tidak lama di Dolik disebabkan oleh gangguan dari canga-canga Tobelo-Galela (bajak laut) sehingga mereka menuju ke Sabatang dan dilanjutkan ke Babang. Di Babang mereka sempat menetap beberapa bulan sambil menunggu kabar/informasi dari saudara mereka yang mengikuti rute pertama. Dan dari Babang kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju Labuha untuk bergabung dengan saudara-saudara mereka yang ternyata telah lebih dulu sampai disana (Labuha).

Oleh karena itulah maka kesultanan Bacan yang pertama berada di Bacan. Dan kemudian sultan yang pertama pun di Bacan merupakan kelanjutan dari sultan Makian (Besi) dengan nama ibu kota kesultanan. Akan tetapi sebagian dari kerabat kerja sultan Makian tidak meninggalkan Tahane, disebabkan karena Tahane, Soma dan Mailoa merupakan daerah aman dari semburan gunung api Kie Besi. Disinilah terdapat suatu hipotesa, bahwa putra mahkota Sultan Makian masih ada di Tahane.

Kesultanan Bacan

Awal Mula Kerajaan Bacan

Berbeda dengan Ternate dan Tidore yang banyak menghiasi rekaman-rekaman

kesejarahan, Bacan tidak banyak memiliki catatan historis. F.Valentijn, penulis Oud en Nieuw

Oost Indien (vol.1b), tidak pernah menulis secara rinci mengenai Bacan, dibandingkan ketika

menulis tentang Ternate atau Tidore. Bahkan, ilustrasi Valentijn tentang Makian dan Jailolo jauh

lebih rinci dari pada Bacan dalam buku tersebut. Selain tulisan-tulisan Coolhaas, tulisan P. van

der Crab, De Moluksche Eilanden (Batavia, 1862), turut menyumbangkan bahan untuk bagian ini.

Kedudukan awal Kerajaan Bacan bermula di Makian Timur, kemudian dipindahkan ke

Kasiruta lantaran ancaman gunung berapi Kie Besi. Kebanyakan rakyat Bacan adalah orang

Makian yang ikut dalam evakuasi bersama rajanya.1

Menurut perkiraan, Kerajaan Bacan

didirikan pada 1322. Tidak jelas bagaimana proses pembentukannya, tetapi bisa ditaksir sama

dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Maluku, yakni bermula dari pemukiman yang kemudian

membesar dan tumbuh menjadi kerajaan.

Raja pertama Bacan, menurut hikayat Bacan, adalah Said Muhammad Bakir, atau Said

Husin, yang berkuasa di gunung Makian dengan gelar Maharaja Yang Bertakhta Kerajaan

Moloku Astana Bacan, Negeri Komala Besi Limau Dolik.

2

Raja pertama ini berkuasa selama 10

tahun, dan meninggal di Makian. Pada 1343, bertakhta di Kerajaan Bacan Kolano Sida Hasan.

Dengan bekerja sama dengan Tidore, Sida Hasan berhasil merebut kembali Pulau Makian dan

beberapa desa di sekitar pulau Bacan dari tangan Raja Ternate, Tulu Malamo.

Mata Rantai Penguasa Bacan

Kronik Bacan menyebutkan bahwa Sida Hasan naik takhta menggantikan ayahnya

Muhammad Hasan.3

Pada masa Sida Hasanlah terjadi evakuasi ke Bacan. Orang-orang Makian

yang dievakuasi ke Bacan menempati kawasan Dolik, Talimau dan Imbu-imbu.4

Raja yang

berkuasa di Bacan setelah itu adalah Zainal A bidin. Kronik Bacan tidak menjelaskan kapan Sida

Hasan maupun Zainal Abidin berkuasa.
UPLOADED BY

Irfan Ahmad

 sebelumnya tercatat 12.000 jiwa, setelah wabah cacar tinggal 10.000 jiwa. Itulah sebabnya,

Sultan Musom juga digelari "Raja tanpa rakyat."

Yang diketahui sebagai pemegang tampuk kekuasaan Bacan setelah itu adalah Sultan

Tarafannur. Di masa pemerintahan Tarafannur, Bacan memperoleh lima daerah baru yang masuk

ke dalam wilayah kekuasaannya, masing-masing Gane, Saketa, Obi, Foya dan Mafa (Halmahera

Barat). Pada masa ini pula, Sangaji Gane membawa puterinya bernama Talimal ke Bacan untuk

menjadi Ngofamanyira. Talimal adalah perempuan pertama Maluku yang menjadi Ngofamanyira.

Tarafannur kemudian digantikan oleh Muhammad Sahaddin.

Kelembagaan Adat dan Sosial Bacan

Ketika Portugis tiba di Maluku (1512), Bacan merupakan salah satu dari empat kerajaan

besar yang ada di Maluku. Dalam jajaran kesultanan Maluku, Bacan merupakan satu-satunya

kesultanan yang berpenduduk heterogen. Sejak evakuasi kerajaan ini dari Makian, penduduk

Bacan terdiri dari berbagai suku, terutama suku Makian, Galela dan Tobelo. Penduduk asli Bacan

hanya berjumlah sedikit. Bahkan, pada 1850 penduduk Bacan asli tinggal 400 orang.7

Tiap suku

dipimpin kepalanya masing-masing dan menggunakan bahasanya sendiri-sendiri. Keadaan multi

etnis ini diterima Kerajaan Bacan sebagai suatu hal yang wajar.

Lembaga-lembaga adat dan sistem pemerintahan Bacan hampir sama dengan yang ada di

Kesultanan Ternate dan Tidore. Satu-satunya perbedaan yang tampak adalah di Kesultanan Bacan

terdapat lembaga Sekretaris Kesultanan yang mendampingi Sultan dalam urusan pemerintahan.

Ia menata administrasi kesultanan, terutama surat keluar-masuk dari dan untuk kesultanan.

Di Kesultanan Bacan, terdapat tiga strata atau kedudukan sosial:

Pertama: Sultan dan anggota keluarganya. Di masa lalu, penguasa Bacan disebut Koasa Ompu,

yang menyandang gelar sultan dan oleh rakyat biasanya disebut Jou Kolano. Anggota

keluarga laki-laki dalam derajat pertama disebut Kaicil ("pangeran") dan perempuan

disebut Boki ("puteri"). Laki-laki yang berhubungan darah dengan Sultan memegang

suatu jabatan yang disebut "Dede."

Kedua: Rakyat jelata disebut Bala. Mereka yang telah menganut agama disebut "orang soasio",

dan yang belum disebut "soa nyagimoi."

Ketiga: Bujangan atau lajang disebut soa ngongare. Pada zaman dahulu, dalam klasifikasi soa

ngongare termasuk pula budak.

Jurnal ETNOHISTORI, Vol. 2, No. 1, Tahun 2016

92 |Page

Muklak Dit Carita:

Negeri Komalo Besi Limau Dolik

Irfan Ahmad

Staf Pengajar pada Ilmu Sejarah Fak. Sastra & Budaya Universitas Khairun.e-mail. irfan_ahmad12@ymail.com

Abstract

This article will analyze the existence of the Limau Besi (Kingdom Makeang) in the World of Maluku. Studyabout local history in North Maluku, especially ethnic Makeang for this long interval very limited andsometimes do not get noticed by the local historian. The people of Makeang in the past were represented asleading ethnic tenacious and hardworking. Ahead of the twentyfive century under pressure and recognizethe greatness of the kingdom of Ternate and Tidore. Overview of the history and the representation of theMakeang as leading past the crash until the twentieth century. This argument was based on the study ofcolonial archives to approach historical methodology.

Keywords: Makeang Limau Besi North Maluku Local History.

I.



Latar Belakang

Dalam bagian ini penulis menggunakannama

Moloku

 atau Maluku untuk menunjukanKepulauan Maluku seringkali dinamai berbeda-beda untuk menunjukan kepulauan tersebut. Saatini bila mendengar nama Maluku, umumnyapandangan orang akan tertuju pada wilayahAmbon, bukan pada Maluku yang sesungguhnya yang saat ini menjadi salah satu Provinsi MalukuUtara. Pengetahuan kita tentang sejarah Malukusangat terbatas. Hal tersebut dikarenakansulitnya sumber-sumber sezaman, maupun parapendahulu kita (leluhur) tidak memiliki budaya tulisdan hanya mengandalkan budaya tutur (lisan)

1

  yang disampaikan melalui cerita rakyat, syair-syairdan pribahasa dari generasi ke generasiselanjutya.M

embaca kembali “Dunia Maluku” adalah

sama halnya membaca gelombang-gelombangperubahan. Pernyataan ini selain berkaitandengan minimnya sumber-sumber sejarah, jugadengan melihat perkembangannya hingga awalabad ini. Dengan demikian membaca Malukumensyara

 tkan sebuah “keintiman” dan

penghayatan yang bertumpuk. Pada tingkat tertentu, terutama pembaca memperhatikanperkembangan Kepulauan Maluku, penuh dengan

gejolak yang berhubungan dengan “monopoli” dan

1

 Budaya menulis oleh orang Maluku barudimulai sekitar abad ke XVI, yang sebelumnya hanyadituturkan secara lisan dalam mengungkapkan suatuperistiwa. Hubert Jacobs.,

A Treatise on the Moluccas(c.1544), Probably the preliminary version of the

Antonio Galvao’s lost Historia Das Molucas. Edited,

annotated, and translated into English fromthePortuguese manuscript in the Archivo General deIndias,

 Seville by Hubert Th. Th. M. Jacobs, S. J. Rome& St. (Louis: Jesuit Historical Institute & St. LouisUniversity, 1971), hlm. 85.

pertarungan-

pertarungan “supremasi

Skip to main content

Muklak Dit Carita: Negeri Komalo Besi Limau Dolik

UPLOADED BY

Irfan Ahmad



Jurnal ETNOHISTORI, Vol. 2, No. 1, Tahun 2016

95 |Page

Tidore, Mote, dan Mara”,



artinya pulau Ternate,Tidore, Moti dan Makeang. Ungkapan ini mungkinsaja wilayah

Mara

berada di arah selatan dalambingkai

Maluku Kie Raha,

difungsikan sebagaiserambi wilayah

Maluku Kie Raha

 yang datangdari arah Selatan. Mungkin dalam konteksmasyarakat moderen sebagai sang penerima tamu yang datang.

 12

 Indikasi ini masih sangat kuatdalam ungkapan tradisional dan tersimpatandalam memori masyarakat hingga saat ini.Ungkapan tersebut adalah sebagai berikut:

Kie Raha mafato-fatoGapi, Doku, Tuanane se MaraDoka ge rako moiGee ma ronga Moloku Kie RahaMaloku Kie Raha gee maMasurabi Kie Mara

Terjemahannya:

Empat gunung berjejer-jejerTernate, Tidore, Moti, dan Mara (Makenag)Bagai setangkai bunga mawar

13



Nama asal negeriNegeri-negeri asal kejadianItulah namanya Moloku Kie RahaMoloku Kie Raha itu, punya serambi ada di pulau Makenag.

Uraian di atas bila dicermati penamaan

kie



Besi



 yang dijuluki sebagai “Pulau Mara” telahberlangsung sejak lama. Asal kata “mara(h)” yang

digunakan oleh penduduk pribumi diduga kerenaseringnya terjadi letusan gunungapi

kie Besi

,sehingga penamaan ini muncul dikaitkan dengan

amukan atau letusan gunungapi, “gunung ataupulau yang sedang “Mara(h)”?.

 Penamaan lain selain

kie Besi danMara(h)

 juga juga terdapat nama alternatif lain



 yang disebut “Waikiong, Wakiong atau Waikion”.

Dalam karya De Clercq (1890), penyebutan

“Mara(h)” biasanya digunakan oleh orang Ternatedan Tidore. Kata “mara(h)” sendiri adalah bentukpenyimpangan dari kata “W

aikiong



14

 atau

12

 Gamaludin A. Gafur,

File yang Hilang AntaraMara dan Maitara

, Tabloid Parada, edisi 3, 21 April-6Mei, 2002. Lihat juga Mudaffar Sjah,

Moloku Kie RahaDalam Perspektif Budaya dan Sejarah Masuknya Islam,

 (Ternate: Himpunan Mahasiswa Ternate-HPMT,2005), hlm. 195.

13

 Pengunaan bunga mawar karena bunga tersebut sangat wangi/harum.

14

 F. S. A, De Clercq,

Bijdragen tot de kennis derResidentie Ternate.

 (Leiden: E. J. Brill, 1890),hlm. 80.Asal kata

mara(h)

 yang digunakan oleh pendudukpribumi diduga kerena seringnya terjadi letusan

gunungapi “Kie Besi”, sehingga penamaan ini muncul

dikaitkan dengan amukan letusan gunung/

gunungMara?.

“Makian”(?).

 Interpretasi De Clercq (1890)

 tentang pengunaan nama alternatif “Waikiong” yang dianggap “buruk”. Diperkirakan se

 jak tahun1742 dimana Sultan Ternate



Jurnal ETNOHISTORI, Vol. 2, No. 1, Tahun 2016

95 |Page

Tidore, Mote, dan Mara”,



artinya pulau Ternate,Tidore, Moti dan Makeang. Ungkapan ini mungkinsaja wilayah

Mara

berada di arah selatan dalambingkai

Maluku Kie Raha,

difungsikan sebagaiserambi wilayah

Maluku Kie Raha

 yang datangdari arah Selatan. Mungkin dalam konteksmasyarakat moderen sebagai sang penerima tamu yang datang.

 12

 Indikasi ini masih sangat kuatdalam ungkapan tradisional dan tersimpatandalam memori masyarakat hingga saat ini.Ungkapan tersebut adalah sebagai berikut:

Kie Raha mafato-fatoGapi, Doku, Tuanane se MaraDoka ge rako moiGee ma ronga Moloku Kie RahaMaloku Kie Raha gee maMasurabi Kie Mara

Terjemahannya:

Empat gunung berjejer-jejerTernate, Tidore, Moti, dan Mara (Makenag)Bagai setangkai bunga mawar

13



Nama asal negeriNegeri-negeri asal kejadianItulah namanya Moloku Kie RahaMoloku Kie Raha itu, punya serambi ada di pulau Makenag.

Uraian di atas bila dicermati penamaan

kie



Besi



 yang dijuluki sebagai “Pulau Mara” telahberlangsung sejak lama. Asal kata “mara(h)” yang

digunakan oleh penduduk pribumi diduga kerenaseringnya terjadi letusan gunungapi

kie Besi

,sehingga penamaan ini muncul dikaitkan dengan

amukan atau letusan gunungapi, “gunung ataupulau yang sedang “Mara(h)”?.

 Penamaan lain selain

kie Besi danMara(h)

 juga juga terdapat nama alternatif lain



 yang disebut “Waikiong, Wakiong atau Waikion”.

Dalam karya De Clercq (1890), penyebutan

“Mara(h)” biasanya digunakan oleh orang Ternatedan Tidore. Kata “mara(h)” sendiri adalah bentukpenyimpangan dari kata “W

aikiong



14

 atau

12

 Gamaludin A. Gafur,

File yang Hilang AntaraMara dan Maitara

, Tabloid Parada, edisi 3, 21 April-6Mei, 2002. Lihat juga Mudaffar Sjah,

Moloku Kie RahaDalam Perspektif Budaya dan Sejarah Masuknya Islam,

 (Ternate: Himpunan Mahasiswa Ternate-HPMT,2005), hlm. 195.

13

 Pengunaan bunga mawar karena bunga tersebut sangat wangi/harum.

14

 F. S. A, De Clercq,

Bijdragen tot de kennis derResidentie Ternate.

 (Leiden: E. J. Brill, 1890),hlm. 80.Asal kata

mara(h)

 yang digunakan oleh pendudukpribumi diduga kerena seringnya terjadi letusan

gunungapi “Kie Besi”, sehingga penamaan ini muncul

dikaitkan dengan amukan letusan gunung/

gunungMara?.

“Makian”(?).

 Interpretasi De Clercq (1890)

 tentang pengunaan nama alternatif “Waikiong” yang dianggap “buruk”. Diperkirakan se

 jak tahun1742 dimana Sultan Ternate yang bernamaSaifuddin (1714-1754),

15

 Kemungkinan besar

pada saat itulah penglebelan “Waikiong” sebagaikonotasi “buruk” digunakan oleh kesultanan

Ternate untuk menjukan wilayah Ngofakiaha.

16

 Indikasi lain dikemukakan bah

wa kata “Waikiong”

adalah nama yang diberikan oleh

arah Selatan. Mungkin dalam konteksmasyarakat moderen sebagai sang penerima tamu yang datang.

 12

 Indikasi ini masih sangat kuatdalam ungkapan tradisional dan tersimpatandalam memori masyarakat hingga saat ini.Ungkapan tersebut adalah sebagai berikut:

Kie Raha mafato-fatoGapi, Doku, Tuanane se MaraDoka ge rako moiGee ma ronga Moloku Kie RahaMaloku Kie Raha gee maMasurabi Kie Mara

Terjemahannya:

Empat gunung berjejer-jejerTernate, Tidore, Moti, dan Mara (Makenag)Bagai setangkai bunga mawar

13



Nama asal negeriNegeri-negeri asal kejadianItulah namanya Moloku Kie RahaMoloku Kie Raha itu, punya serambi ada di pulau Makenag.
KESAMAAN MARGA SANANA DAN MAKEANG
Uraian di atas bila dicer

Kalau menurut cerita kakek saya yang sy dengar sendiri, dimana ada kesamaan marga khususnya torang di ngofagita... ada marga Um Imam yang punya hubungan kerabat deng Umamit yang disanana, Um Sangaji = Umasangaji, Um Hukum = Umahuk, Um Waysamola = Waisamole, Um Lailoyo = Umanailo dan 4 marga lagi yang kebetulan sy lupa (nnt saya liat catatan). Sebagai bukti yang masih ada sampai sekarang adalah sumur tua (sumur lolo) di desa ngofagita yang sudah berumur ratusan tahun dan masih dipakai sampe sekarang, adalah sebuah sumur yang digali oleh saudara2 kami dari sanana..... *ini adalah cerita dari kakek saya,,,, Wallahu'alam.

MENAPAKTILASI GERAKAN MARABOSE (PROSES PEMINDAHAN KERAJAAN MAKIAN KE BACAN)

Judul tulisan ini mungkin agak berlebihan serta sedikit keberanian penulis untuk coba mengungkap tentang Gerakan Marabose. Penulisan yang ditampilkan ini hanya berupa paparan semi-naratif dan tidak bermaksud untuk menggurui para pembaca, tetapi semacam ekspektasi untuk bisa berbagi (take and give) tentang sepenggal sejarah Maloko Kie Raha yang bertajuk “Gerakan Marabose”.

Ide untuk mengungkapkan Gerakan Marabose ini, berawal dari percakapan saya dengan seorang teman yang tidak sengaja membahas tentang isu pengangkatan Sultan Bacan, beberapa waktu yang lalu. Pembicaraan ini pun kemudian melebar. Awalnya hanya berupa mekanisme pengangkatan Sultan di Jaziratulmamluk, tiba-tiba muncul pertanyaan tentang akar historis Kerajaan/Kesultanan Bacan yang dilontarkan temanku. Berdasarkan literature yang didapati/ditampilkan dari para penulis sejarah dan budaya Maluku Utara, dalam pengklasifikasiaan tentang empat kesultanan yang ada, menjelaskan bahwa Kesultanan Bacan awalnya merupakan Kesultanan Besi atau Makian sebelum pindah ke Bacan. Sama halnya dengan kesultanan Moti yang kemudian pindah ke Jailolo. Pembicaraan pun menjadi hangat dengan pertanyaan yang ia kemukakan, yaitu; “Mengapa para penulis sejarah dan budaya kita tidak menjelaskan tentang proses pemindahan, serta alasan-alasannya sampai kedua kesultanan itu mengalami proses pemindahan?”. Aku pun terdiam sejenak, lalu mencoba untuk mejawab pertanyaannya. Keresahan begitu tampak terlihat pada raut wajahnya yang kontras dengan cuaca panas pantai Sulamadaha. Itulah keresahan sang pencinta budaya Maluku Utara, seruku dalam hati. Mengingat awal pembicaraan kita tentang mekanisme pengangkatan Sultan Bacan, ada baiknya terlebih dahulu jikalau kita coba untuk menelanjangi proses pemindahan kerajaan Makian ke Bacan. Akan tetapi dalam hal ini, bukannya aku menampik keberadaan tentang kerajaan Moti (Tuanane).

Secara historis Makian/Makeang merupakan bagian integral dari empat kerajaan yang ada di Maluku Utara (Maloko Kie Raha), disamping kerajaan Ternate, Tidore dan Jailolo, sebelum pindah ke Bacan. Sejarah ini masih terpatri dibenak para Macovianis (sebutan untuk orang Makian – bahasa Portugis), yang dikonstruksi oleh mereka sendiri tanpa proses penelusuran yang jelas dan rinci, akan perpindahan tersebut. Gerakan Marabose adalah suatu gerak perpindahan atau evakuasi orang Makian ke Bacan, atau biasa disebut dengan gerak pemindahan kerajaan Makian menuju Bacan. Pemindahan ini pun, disebabkan oleh kondisi alam dari pulau Makian yang tidak begitu aman (gangguan gunung api Kie Besi) sehingga memaksakan sultan Tarafannur (moyang penulis) untuk memerintahkan proses evakuasi. Proses evakuasi dalam terminologi cultural studies, mempunyai korelasi yang kuat dengan istilah Diaspora; yang diartikan sebagai suatu perjalanan atau persebaran yang disebabkan oleh kondisi alam yang tidak memungkinkan untuk menetap atau tinggal.

Dalam persebaran atau perjalanan, Gerakan Marabose dibagi kedalam dua rute yang akan dilalui. Pertama dimulai dari Tafasoho, dan yang kedua dimulai dari Tahane. Rute yang pertama berangkat dari Tafasoho menuju Tagono, lalu kemudian ke Talimau. Dari Talimau, mereka menuju ke Boki ma Ake/Kasiruta dan selanjutnya mereka menuju ke Labuha. Sedangkan untuk rute yang kedua, yaitu dimulai dari Tahane menuju ke tanah besar (Halmahera) yang namanya Dolik. Mereka pun tidak lama di Dolik disebabkan oleh gangguan dari canga-canga Tobelo-Galela (bajak laut) sehingga mereka menuju ke Sabatang dan dilanjutkan ke Babang. Di Babang mereka sempat menetap beberapa bulan sambil menunggu kabar/informasi dari saudara mereka yang mengikuti rute pertama. Dan dari Babang kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju Labuha untuk bergabung dengan saudara-saudara mereka yang ternyata telah lebih dulu sampai disana (Labuha).

Oleh karena itulah maka kesultanan Bacan yang pertama berada di Bacan. Dan kemudian sultan yang pertama pun di Bacan merupakan kelanjutan dari sultan Makian (Besi) dengan nama ibu kota kesultanan. Akan tetapi sebagian dari kerabat kerja sultan Makian tidak meninggalkan Tahane, disebabkan karena Tahane, Soma dan Mailoa merupakan daerah aman dari semburan gunung api Kie Besi. Disinilah terdapat suatu hipotesa, bahwa putra mahkota Sultan Makian masih ada di Tahane.

Akhir kata, pemaparan yang saya sampaikan ini, hanyalah sebatas rasa ingin tahu yang saya lakukan ketika menayakan kepada sesepuh yang memiliki kompetensi (garis keturunan sultan) akan sejarah Kesultanan Makian/Bacan dan kemudian dieksplorasikan lewat tulisan sederhana. Disadari, meskipun penjelasannya kurang holistik, tetapi kekusutan dari raut wajah temanku akan keresahannya sedikit tercerahkan. Mengakhiri tulisan ini, izinkan saya menuliskan Dola bololo yang digunakan dalam prosesi pemilihan sultan Ternate. Mengingat karena Kesultanan Ternate sebagai “Alam makolano/dada ma dopo” (penguasa alam) maka dola bolo ini sebagai rujukannya.. “Fo tike rimoi toma dofu madaha, fotike dofu toma rimoi madaha”

sumbere dan menapaktilasi-gerakan-marabose-proses-pemindahan-kerajaan-makian-ke-bacan/

Komentar